Tambora adalah nama gunung di pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Gunung Tambora telah mengukir sejarah dunia mengenai letusannya tercatan dalam sejarah dunia merupakan gunung dengan memiliki letusan terdasat di muka bumi di abad modern. Letusan Tambora mempengaruhi iklim dunia, di belahan eropa tercatat dengan peristiwa tesebut gagal panen di belahan Eropa dan Amerika Utara selama satu tahun di tahun 1816 tak ada sinar matahari ke bumi akibat kabut mutahan letusan tambora menutupi lapisan atmosfer, tiga kerajaan di lereng tambora tertimbun yakni Tambora, Pekat dan Sanggar sebagian penduduk sempat selamat termasuk raja Sanggar sendiri.
Tambora dibalik sejarah letusan yang dasat dan di sisi lain Tambora menyimpan banyak keanekaragaman hayati flora dan fauna yakni lebih khusus flora terdapat kayu spesial dari hutan Tambora. Kayu spesial hutan Tambora ini pertama dan satu satuntanya di dunia masyarakat setempat menyebutnya kayu Kalanggo "molucana dua banga". Rekam jejak kayu ini adalah kayu yang sudan pertama tumbuh di gunung tambora pasca letusannya dengan diameter lebar dua meter hingga empat meter dan panjang bisa mencapai 20 meter hingga 40 meter.
![]() |
| Salah satu pohon masih tersisa diameter kurang lebih 4 m di dekat bangunan Pura Hindu di desa Pancasila Tambora |
![]() |
| pohon Kalanggo (molucana duabanga)masih tersisa dalam bangunan Pura Hindu di desa Oi Bura Tambora |
Eksploitasi besar-besaran hutan tambora oleh PT. Veneer Product sejak tahun 1977 hingga berakhir tahun 2000 dengan waktu cukup lama 23 tahun. Akhir kegiatan penebangan tahun 1999 kami memasuki kecamatan Tambora meminta sumbangan kegiatan IMBI-KASAMA Ikatan Mahasiswa Bima Sanggar Mataram memasuki rumah masyarakat untuk meminta sumbangan, kami kaget nominal uang yang beredar di masyarakat di tambora paling kecil rata-rata Rp.50.000,-. saya sangat kaget tingkat pendapatan masyarakat Sanggar di tambora melebihi pemasukan di Kore. Masyarakat di Kore rata-rata memberikan sumbangan Rp. 5.000,- pada saat itu tambora masih masuk kecamatan Sanggar, belum menjadi kecamatan Tambora. Bisa dipastikan beredar uang sehari di Tambora waktu PT. Veneer Product bisa mencapai miliyaran rupiah.
PT. Veneer Product berakhir tahun 1999-2000 tak selang lama perusahan- perusahan kayu AWB masuk mengeksploitasi kayu sisa limbah kayu PT. Veneer Product mengelola kayu dengan diameter dibawa 70 cm karna ukuran kayu dibawah 70 cm tidak dikerjakan PT Veneer. Selama dari tahun 1977 sampai dengan tahun 2000 PT. Vener Product hanya mengelola kayu ukaran 70 cm keatas, artinya diameter 70 cm tak masuk dalam pekerjaan dan dianggap limbah kayu bagi PT. Veneer Product. Tak mengherankan sisa limbah PT.Veneer Product menjadi peluang bagi masyarakat sekitar gunung tambora untuk meraih keuntungan, terutama munculnya anak perusahaan PT. Agro Wahana Bumi sehingga mendapatkan peluang bagi masyarakat setempat untuk mengelola limbah kayu PT. Veneer Product.
Masuknya PT. Veneer mengelola hutan negara tahun 1977 sampai tahun 1999 tidak saja membawa dampak positif bagi peningkatan ekonomi masyarakat namun juga mebawa dampak negatif bagi kerusakan besar vegetasi hutan asli Tambora, bukan saja hutan tetapi dampak lansung dengan ekologi, iklim dunia dan bencana alam, apalagi disusul dengan masuknya PT. AWB merupakan anak perusahaan dari PT. Veneer yang sasaran awal mengelola limbah PT.Veneer namun juteru pengsploitasi hutan produksi dan meleggang masuk kawasan negara. Pada saat inilah mulai hancurnya hutan Tambora mulai dari hilir ke hulu sehingga wajah hutan tambora dahulunya hutan pencakar langit kini yang tertinggal semak belukar. Cerita hutan tambora pencakar langit hanya sebuah dongeng bagi generasi merikutnya, kini masih tersisa hanya di banguan Pura Hindu desa Pancasila hanya beberapa pohon.
Dengan masuknya AWB menjadi peluang CV. mengandeng izin PT. AWB. Sehingga di tahu 2001 CV berjejer di sepanjang jalan di wilayah Tambora Bima belasan perusahaan mulai dari desa Kanaga sampai Nguwu Ponda belum lagi wilayah kecamatan Pekat Dompu belasan perusahaan berjejer sepanjang penggir jalan, sehingga di sepanjang jalan melintasi kawasan tambora sepanjang jalan dari tahun 2001 sampai 2007 terlihat tumpukan limbah kayu mengunung merupakan pamandangan yang melelahkan. Sepajang perjalanan di setiap pekarangan rumah warga menggunung balok kayu dan gelondongan kayu dan sisa kayu yang tak masuk sortir tak ada nilai, dan di anggap sampah kadang dibakar ada juga yang digunakan untuk pagar rumah, kebun, dan kandang tenak.
Kerusakan hutan tambora dari hulu kehilir berpengaruh pada bencana dan kerusaka infra struktur jalan akibat bajir bandang dan tekana air laut akibar bajir, sehingga jalan yang melintasi kawasa tambora baik wilayah kabupaten Dompu dan kabupaten Bima mengalami kerusakan parah, dan berselang tiga sampai lima tahun diperbaiki mengalami kerusakan lagi.
Hutan Tambora tak berwajah hutan hanya tinggal semak belukar yang setiap tahun dapat berubah akibat pemanfaatan lahan oleh masyarakar pengelolaan lahan dibabat, dibakar disempror untuk ditanami jagung dan porang selang masa tanan enam bulan menjadi hamparan padang bebatuan tampa pepohonan setiap tahun pengundukan tanah di tempat kemiringan pasca musim penghujan berupa tanah erosi setiap tahun permukaan tanah terus terkikis 5cm hingga 10cm dalam jangka waktu lama tujuh tahun sampai duapuluh tahun kemudian menjadi hutan bebatuan tampa perekat tanah(tanah bertulang).
| kerusakan jalan Nguwu Ponda menuju Kananga kawasan tambora Kec.Tambora tahun 2009 |
Hutan Tambora tak berwajah hutan hanya tinggal semak belukar yang setiap tahun dapat berubah akibat pemanfaatan lahan oleh masyarakar pengelolaan lahan dibabat, dibakar disempror untuk ditanami jagung dan porang selang masa tanan enam bulan menjadi hamparan padang bebatuan tampa pepohonan setiap tahun pengundukan tanah di tempat kemiringan pasca musim penghujan berupa tanah erosi setiap tahun permukaan tanah terus terkikis 5cm hingga 10cm dalam jangka waktu lama tujuh tahun sampai duapuluh tahun kemudian menjadi hutan bebatuan tampa perekat tanah(tanah bertulang).
Penurunan tingkat produktivitas lahan hasil pertanian akibat erosi terutama lahan dataran kemiringan sangat terasa jika lahan digunakan secara terus menerus dalam waktu 10 tahun keatas, hal ini jika kita bandingkan dengan hasil produktivitas tahun pertama sampai tahun ketujuh masih stabil.
Pengolaha lahan hutan produksi tanpa bimbingan tenaga penyuluh dan tidak memikirkan keberlanjutan akan merugi, bisa lihat kasus lahan ditanami jagung yang di sekitar wilayah kecamatan Sanggar saat ini mengalami penurunan produktivitas akibat erosi tanah teruta di lahan dataran kemiringan.

